miami vice

September 4th, 2006 by swastika

Miami1Miami4Setelah ada sekitar sebulan film ini nangkring di bioskop, akhirnya saya tonton  juga. Padahal bapak ini dan paman ini sudah cerita dengan berapi-api pada saya, betapa jeleknya Miami Vice. Daniel sampe bilang "Diapain aja ya duit yang seratus juta dolar? Masa filmnya jelek banget gitu!" Saya jawab, "Ya dipake buat promosi. Kalau filmnya nggak bagus kan promosi kudu gencar!" hehehe…Miami3

Dan beneran. Tadi siang saya membuktikan betapa jelek dan menjemukannya aksi  Colin Farrel dkk. Sebagai detektif yang mumpuni, akting Colin Farrel nggak meyakinkan. Apalagi Gong Li. Miami2 Sama sekali nggak keliatan kayak penjual obat bius kelas atas. Dialognya kaku  banget, kayak ngapalin text book! Cuma Jamie Foxx aja yang mainnya agak lumayan. Tapi ya dia sendirian nggak Miami5ada artinya. Mungkin Michael Mann lebih pas berkarir jadi scrip writer ajah (The Last of the Mohicans keren kan? Ali, The Insider juga kan?), dan nggak usahlah nyutradarain daripada buang duit jadinya gini doang. Intinya, saya bosan berat nonton film ini. Kalau nggak karena unlimited card, males banget deeeeh nonton film ini!

them

September 4th, 2006 by swastika

Them3 Spoiler alert: Kalau berniat nonton THEM alias ILS dan pengin bener-bener ngerasain thrillernya, jangan terusin baca posting ini. Kalau nekat terusin baca, yaaa… resiko tanggung penumpang. Judul aslinya Ils, untuk international market dipakailah judul dalam bahasa Inggrisnya, Them. Nonton film produksi Perancis ini nyaris seperti naik roller coaster. Opening scene dengan disclaimer "based on true event" membuat ketegangan nonton film ini makin pol. Film ini juga membuat saya semakin yakin untuk tidak tinggal di rumah yang terpencil dan jauh dari tetangga. Sereeem bo!

Clem yang guru SD tinggal Themserumah  dengan Lucas, kekasihnya di sebuah rumah tua berlantai dua. Suatu malam mereka diteror. Tapi sampai filmnya sejam lebih masih belum ketahuan apa atau siapa yang meneror mereka. Penerornya juga nggak jelas maunya apa. Ngejar-ngejar bawa clurit tapi pas udah deket banget, nyaris ketangkep, Lucas dan Clem nggak dibunuh. Lho?

Settingnya yang di Bucharest dan model rumahnya yang megah tapi tua menguatkan suspense yang dibangun dari awal. Tapi dari semua itu, endingnya Them2yang bikin saya tergaga-gaga. "They" are some 10-15 years old teenagers! Menjelang credit title disebut, polisi berhasil menangkap pelaku2nya beberapa waktu setelah jenasah Clem dan Lucas ditemuin. Dalam interogasi dengan salah satu pelakunya yang baru berumur 10 tahun, dia bilang alasan meneror Clem dan Lucas karena mereka berdua nggak mau diajak main! Duuuuaaar… are we really living in such a sick society?

krispy kreme

September 3rd, 2006 by swastika

Belakangan ini temen-temen di milis Jalan Sutra rameee banget ngebahas donat Krispy Kreme dan J Co. Saya inget pernah sekali ngicipin Krispy Kreme waktu jadi panitia London Indonesia Film Screening. Jatah konsumsi gitu… Waktu itu nggak ada kesan yang istimewa apa pun. Nggak sampe nggak enak sih, tapi ya rasa donat aja gitu… Tapi kok para penikmat kuliner di JS segitu hebohnya sampe rela pada ngantri. Ada apa dengan donat ini?

Krispy_kremeKedatangan Neng Olivia ke London membuat saya makin penasaran. Dia bilang itu donat terenak sedunia dan keukeuh mau beli karena di Belanda ga ada tokonya! Halah! Tapi gapapa deh. Yuuuuuk… Sejak Jumat sampe Minggu pagi tadi kita selalu mencari Tesco di sepanjang rute jalan2, karena counter KK ada di supermarket ini. Semalam bela-belain mampir ke Tesco di Shaftbury Avenue, eh, yang rasa original glazing udah abis. Konon itu yang paling enak. Batal beli deh.

Tadi pas nganter Ollie balik ke Amsterdam, ternyata di Waterloo international Krispy_homerstation ada loh counternya! Sayang Ollie udah buru2 banget mau check-in. Dia nggak beli. Setelah Ollie cabut, kebetulan mulai lapar, saya sempetin nyomot satu potong makanan favorit Homer Simpson yang rasa original glazing (tentunya bayar, nggak nyomot doang! Gila kali!). Rasanya? Ya rasa donat aja… Sumpah nggak ada istimewanya! Manis doang. Agak lengket di gigi. Udah. Titik. Gitu kok pada heboh… Heraaaaaan!!!

a scanner darkly

September 3rd, 2006 by swastika

Scanner2 Hah! Capek-capek akting malah dibikin animasi! Itu kali yang ada di pikiran Keanu Reeves, Winona Ryder, Woody Harrelson dan Robert Downey Jr pas main A Scanner Darkly. Saya siy asik-asik aja menikmati hasilnya. Menurut saya malah keren banget animasinya. Rasanya beda ngeliat Keanu dalam bentuk animasi. Seru. Tapi sebenarnya yang paling kuat karakternya malah Robert Downey. Kalo Winona cakepan aslinya. Di animasi gak keliatan imut gitu…

Sejak lihat trailernya pas nonton bareng Da Bomb, saya bertanya-tanya, kenapa juga film ini mesti dibikin Scanner1_1 animasi? Rupanya Scramble Suit alias kostum khusus Keanu yang berubah wujud tiap detik itu kali alesannya… Diawal saya nonton dengan penuh perhatian, malah tergaga-gaga liat animasinya. Keren banget. Tapi setelah 30an menit, kok mulai terasa lambat yaaa. Setelah 60 menit, saya nglirik ke samping, dan temen nonton saya malam itu tertidur pulasss…

Scanner3 Ada yang bilang dibikin animasi biar makin mantep kalau pas lagi ngeliatin tokoh2nya halusinasi karena drugs. Ada juga yang keukeuh animasinya sekedar buat keren-kerenan ajah, dan hasilnya film ini disebut-sebut termasuk cult classic (whatever that means). Terserah deeeh… yang jelas film ini terlalu lambat buat saya. Dialognya yang panjang-panjang itu jadi sulit dinikmati karena nggak liat ekspresi asli tokoh2nya. In the end, pesan moral film ini adalah: JAUHI NARKOBA… hehehehe… (jadi pengin nonton Detik Terakhir).

camden

September 3rd, 2006 by swastika

Camden1_1 Week end ini Olivia Newton John main ke London. Nyampe sini Jumat sore, trus Minggu siang tadi balik lagi ke Amsterdam, pengin ke Stonehenge pulak (ampuuun deh! London geda Bu! Nggak cukup cuman se-week end doang). Jalanlah kita menyusuri pojokan London. Ternyata masih banyak tempat  yang belum saya eksplor dengan seksama. Misalnya Camden Market, di North London.

Lendy bilang Camden market mirip Blok M. Sementara Santri mbalelo ini seneng Camden_tas_topibanget sama Camden, tempat yang pertama dia singgahi ketika awal2 ke London. Si pembawa keceriaan bilang kalo mau cari jaket2 bekas tentara PDII yang murah ya di Camden, bisa ditawar pulak. Okeh… sip!

Tempat ini seru banget, banyak toko2 kecil yang funky, segala tas, sepatu warna warni, dan anak2 punk dengan segala atribut mereka (kecuali rambut, mulai alis mata sampe ujung kaki mereka ini cuma terdiri dari ada 2 warna: item dan silver). Paling top kios2 kaosnya booo!!! Segala grup band, film dan plesetan konyol Camden_punktersedia! Harganya pun boleh diadu sama toko sebelah. Cuma mesti siap uang cash. Kebiasaan saya  bawa uang cash secukupnya berbuah kegagalan beli kaos disini  (padahal keyeeen!) Malah toko kaos yg masang logo Visa & Mastercard tetep nggak bisa proses kartunya neng Olivia, terpaksa dia merelakan lembaran poundsterling terakhir di dompetnya.

Kami berdua nggak pegang uang cash dan satu2nya ATM yang kami temukan rusak.Img_2059_1 Padahal perut mulai lapar. Dan sepanjang tepian Camden Lock (alias kanal Camden) aneka makanan di kios melambai minta dicicipi… Oooh… Uang  memang bukan segalanya, tapi tanpa beberapa keping koin poundsterling kami cuma bisa ngiler ngeliat irisan crispy duck ditata diatas kwe-tiaw goreng panas mengepul… Percuma deh Neng Olivia dandan rasta pake rambut gimbal kalo perut keruyukan!

Yeah… makin sore, langit mendung dan masih pengin ke Covent Garden. Kami terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada makanan2 lezat itu dengan hati teriris. Camden, I’ll be back, for sure!

you, me and dupree

August 31st, 2006 by swastika

DupreeWalah walah… males banget kalo ditebengin orang kayak si Dupree ini! Tidur di sofa ruang tamu sampe siang kok ya telenjiii ji ji ji! Orangnya jorok, seenaknya dan cuek banget. Tapi ya namanya komedi, kekonyolan dan ketololannya dibikin ekstrim. Misalnya, Dupree ngajak kencan cewek dan mau sok romantis jadi masang lilin banyak2. Eh… malah ngebakar sofa. Kebanyang kan lawakan macam apa yang digarap disini? Ring a bell? Oke deh… satu clue lagi:  We-a-er-ka-o-pe?Dupree1

Lawakannya garing dan ceritanya ketebak banget. Owen Wilson mainnya bagus  siy… sukses gitu jadi Dupree. Tapi ya udah, sampe situ aja. Kate Hudson dan Matt Dillon yaaa… standarlah. Intinya kehadiran Dupree ini membuat pasangan Kate-Matt makin saling mengertiiih! Format standar? Memang…

severance

August 31st, 2006 by swastika

Agak susah nyari image buat posting film ini. Severance, film Inggris yang mungkin nggak ngetop di Amerika (biangnya industri dan distributor film) ini ternyata lumayan lho… Tadinya sempat mikir dulu sebelum nonton, secara saya Severancekan bukan penggemar film berdarah-darah. Padahal film ini posternya aja kepala terpenggal dari leher. Mateee…  And it turned out that it’s a literally bloody film! Sekelompok karyawan perusahaan senjata ikut program outing ke sebuah lodge di hutan Hungary (saya langsung ngeh kalau mereka di Hungary karena sopir bisnya yang nggak bisa bhs Inggris marah2 sambil berkali-kali ngomong "Nem!!" alias "No" dlm bahasa Magyar! hahahaha…)

Ternyata di hutan itu ada sekelompok orang yang meneror mereka. Ngejar-ngejar gitu deh, dibantai satu persatu. Syereeem… sadis… berdarah! Tapi ngelawak! Masa ada yang pas lari di hutan kakinya kejepit jebakan beruang, terus pas diangkat putus tus! Hhhh… Kayaknya memang sekarang lagi trend nyampur2 resep film thriller, horror dan komedi. Dan Christoper Smith lumayan sukses nyampur2 tiga ramuan ini ke dalam Severance. Heraaan… darah kan nggak lucu! Eh, tapi saya ketawa juga ding! Dikiiiit.

harsh times

August 31st, 2006 by swastika

Bale Harsh Times membuktikan kalau Christian Bale memang aktor yang nggak cuma modal ganteng! He’s more than just a cute British chap, for sure. Saya sudah curiga sejak nonton American Psycho (2000), lalu mutlak teryakinkan pas nonton The Machinist alias El Maquinista (tahun 2004 kalau ga salah). Sebagai Jim Davis di Harsh Times, sungguh, Christian Bale sama sekali nggak keliatan ganteng. Dia berubah total jadi calon polisi gagal yang resek, kasar dan nyebelin… Macem orang yang kita bakal males banget ketemu gitu.

Jim Davis ini temenan sama Mike, pengangguran tak tahu diri. Dan nyaris sepanjang film itu isinya mereka naik mobil keliling LA sambil nge-bir, nyari perempuan dan bikin keonaran nggak keruan! Sampe sejam lebih nggak ada konflik. Sampe sempet bertanya-tanya, ini film maunya apa gitu… Baru menjelang akhir keliatan deh, arahnya Freddy_rofriguezkemana. Kalau kata Sly, ini film yang isinya ngebangun karakter. Kalau kata saya sih, film ini kayak bisul! Dokeeem aja, tambah gedenya pelaaan banget sampe tiba2 pecah dan duaaar!!! Eh, tapi saya menikmati bisul yg satu ini. Seru soalnya. Well  scripted. Recommended.

Nyaris sepanjang film saya juga sibuk mengingat-inget. Yang jadi Mike Alvarez, sobatnya Jim ini, mukanya familiar banget… Ternyata dia main di Six Feet Under! Pantesaaaan…   Oya. David Ayer, sutradaranya, adl script writer Training Day. Jadi buat yang suka Training Day, film ini wajib dilongok.

volver

August 29th, 2006 by swastika

Ah, sekali lagi Almodovar berhasil memanjakan mata, telinga dan benak saya. Banyak review yang bilang Volver overrated. Atau hanya mengeksploitasi Almodovarkemolekan Penelope Cruz. Ternyata nggak juga tuh! Memang Cruz terlalu cantik untuk perannya sebagai perempuan yang hidupnya susah. Apalagi dia digambarkan jago nyanyi. Kan biasanya perempuan cantik yang jago nyanyi udah mengadu keberuntungan di TV, atau minimal nyanyi di cafe, bukan jadi janitor seperti tokoh Raimunda. Hehehe…  Tapi aktingnya yang meyakinkan membuat kelebihan ini termaafkan. Masa perempuan cantik nggak boleh hidupnya susah?

Volver membawa saya jalan-jalan ke Madrid, menikmati gejolak hubungan antara tokohnya yang dilukiskan dengan penuh warna. Cara perempuan-perempuan VolverMadrid memberi salam dengan saling mengecup pipi dengan decakan yang berisik hingga 3-4 kali di pipi kanan dan kiri mau nggak mau bikin ketawa. Coba aja kalau ketemu buat arisan dimana ada puluhan perempuan, berisik banget kan acara saling cium pipinya!

Nyaris sebagus All About My Mother (masih favorit diantara karya Almodovar), Volver juga mengulik hubungan keluarga yang sentralnya pada tokoh Ibu. Kedua film ini (plus Bad Education dan Women on the Verge of a Nervous Breakdown) membuat saya curiga, jangan-jangan Almodovar dulunya pengin jadi psikolog tapi males sekolah dan intership kelamaan, lagian pengin ngetop juga, jadinya bikin film aja deh…

plastic bag traveler

August 15th, 2006 by swastika

Hari Minggu 13 Agustus sekitar jam 3.30 pagi saya menembus gerimis menuju halte untuk menunggu night bus yang akan membawa saya ke Charing Cross station, ganti N9 menuju Heathrow Central. Saya sampai di terminal 1 Heathrow sekitar 2 jam sebelum flight pukul 7.50 pagi, padahal di print out e-ticket penumpang international flight diharapkan check-in 3 jam (ya, tiga jam) sebelum penerbangan. Dan seperti yang saya kuatirkan, antrian penumpang udah keliatan panjaaaang banget, sampai ke lapangan parkir. Duh!

Saya antri dengan ratusan penumpang lain. Tapi nggak disangkal, selama ngantri saya gelisah nggak keruan. Gimana nih, kan mesti check-in paling nggak jam 6, tapi kalau ngikut antrian yang bergerak sangat lambat ini bisa-bisa sejam lagi juga baru sampe pintu masuk bandara. Tiba-tiba saya melihat 3 orang perempuan berseragam berjalan melintasi antrean. Insting saya bilang, ikuti aja mereka, pasti mereka tau jalan lain masuk ke bandara tanpa harus mengikuti antrean ini. Yup, sedikit nekat, saya keluar dari antrian dan membuntuti mereka. Benar saja, mereka memotong lapangan parkir dan langsung menuju pintu masuk. Yihaaa…

Dscn0766Lho, tapi persis di depan pintu masuk bandara mereka belok, nggak masuk. Tinggallah saya bengong di depan pintu bertuliskan ‘Premium Entrance’ itu. Walah! Tiket saya kan kelas ekonomi saja, mana bisa masuk lewat pintu berlabel premium ini. Yang bikin jantung lebih deg-degan saya lihat 2 orang petugas bertampang serius menjagai pintu ini tengah beradu mulut dengan calon penumpang yang tampak kecewa. Gimana nih?

Saya berdiri aja di pintu masuk itu, lihat kanan-kiri dan mencuri dengar perdebatan petugas dengan calon penumpang pria berusia 50an tahun.

Calon penumpang: When is the next flight to Aberdeen?
Petugas : (melihat kertas di tangannya) Tomorrow, at 11.
Calon penumpang: What? I don’t want to spend the night at the airport…
Petugas: (dgn tampang dingin) Then book yourself a hotel.

Alamaaak… kalau saya di posisi bapak itu, kepala saya pasti sudah berasap!

Eh, pandangan saya menangkap 4 orang yang seumuran saya berjalan ke arah pintu masuk sambil ngobrol satu sama lain. Ding ding… sebuah lonceng kecil berbunyi dalam kepala saya, dengan instruksi, “Ikuti mereka, sekarang!” Oke deh, saya pede aja menempel seolah-olah bagian rombongan anak-anak muda ini. Tentunya di deretan paling belakang dooong… Hanya orang paling depan saja yang diperiksa tiketnya, sisanya boleh masuk. Fuuiih! Legaaaa rasanya bisa masuk bandara tanpa membuang waktu untuk antri. Berikutnya, saya sibuk menghibur diri bahwa saya toh nggak motong antrean, cuma cari jalan lain untuk masuk lebih cepat… kalo nggak ntar ketinggalan pesawat. Jadi boleh dong yaaa…

Di depan counter check in tiap maskapai, teteup… antrean lagi!! Panjang lagi, uler-uleran lagi! Dwoh!! Ya udah, saya pikir, “Don’t push your luck, girl! Kali ini ngantri aja dengan manis.” Oke, masuk ke barisan di depan counter BA utk international flight ke Eropa. Sudah jam 6.10 dan ada sekitar 40an orang di depan saya. Masih amanlah.

Peringatan standar keamanan baru yang gencar diumumkan media Inggris rupanya membuat sebagian penumpang well-prepared. Mereka membawa sendiri kantong plastik transparan sesuai aturan. Misalnya pasangan yang antre di belakang saya. Mereka kompak membawa sepasang tas dari plastik tebal transparan, modelnya mirip tote bag dengan resleting warna merah! Ahaaai… manisnya!

Meski tidak se-well prepared itu, tapi paling nggak saya well informed. Semua barang kecuali dompet, paspor dan e-ticket sudah masuk ke ransel utk dibagasikan. Padahal ini ransel ukuran sedang yang biasa saya bawa di kabin lho…

Dscn0287 Di check-in counter, petugasnya meminta saya mengeluarkan semua isi kantong jeans dan meletakkannya di meja counter. Saya lalu di beri tas plastik transparan dan polos, yak, tas kresek gitu deh, dan diminta memasukkan barang-barang saya kedalamnya. Sesudah urusan tas kresek ini rapi, barulah saya diberi boarding pass.

Masih ada 2 titik pemeriksaan barang bawaan sebelum sampai di titik pemeriksaan imigrasi (paspor dan visa). Menjelang titik pemeriksaan barang pertama, apalagi kalau bukan antrian. Untung ‘hanya’ 20an orang di depan saya. Selagi antri, seorang petugas berjalan mondar-mandir di sepanjang samping antrian sambil berseru: “No lipstick, no lip gloss, no lip balm, no pen, no pencil, no cigarette, no lighter, no matches, no books, no magazine, no gum, no all kinds of sweets, no water, no drink!” sambil menenteng kantong plastik tempat sampah.

Penumpang yang masih membawa barang yang disebut dalam ‘DAFTAR NO’ itu harus membuangnya dalam kantong sampah yang dibawa si petugas. Seorang perempuan muda dengan cemberut membuang sebungkus Marlboro putih dan lighternya. Seorang bapak di depan saya dengan muka pasrah ‘membuang’ fountain pen-nya! Oh! Padahal pulpen berwarna silver dengan ukiran bunga mungil itu keren lhooo…

Yak, tibalah security check terakhir, yang pakai metal detector gate itu. Tariiik maaaang… sekali lagi antri. Dua meter menjelang metal detector gate, seorang petugas membagikan kotak plastik yang mirip keranjang cucian dan calon penumpang diminta meletakkan tas kresek serta benda apapun yang menempel di badan kedalam kotak ini. Segeralah penuh kotak-kotak ini dengan jam tangan, gelang, kalung, cincin, jaket dan… sepatu! Yak, calon penumpang harus buka jaket, topi, sweater dan sepatu… jadi lewat detector gate itu benar-benar hanya mengenakan top & pants/skirt aja. Nggak tau deh gimana kalau pake kerudung. Masa iya disuruh copot juga? Saya tengok kanan-kiri sayangnya nggak ada penumpang perempuan yang berkerudung.

Menjelang detector gate, tiba-tiba suara tawa beberapa orang terdengar di belakang saya. Oalaaah… ternyata pria di belakang saya baru saja mencopot sepatunya dan kedua kaos kakinya bolong di bagian jempol!!! Pantes…

Lalu prosedur standar, lewat detector gate dan seorang petugas perempuan meraba seluruh tubuh dari bahu sampai mata kaki saya. Untung dia melakukan tugasnya dengan sangat cepat. Kalo nggak kan geli juga bo!

Kelar segala pemeriksaan ini, sudah jam 7.10 jadi 40 menit lagi berangkat. Liat monitor status penerbangan, alamaaak! Setengah dari flight pagi itu statusnya CANCELED! Untung status flight saya OK. Tapi kok belum disebutkan mesti menuju gate nomer berapa? Hmm.. ya tunggulah. Mungkin nanti 30 menit menjelang jam berangkat baru dikasih tau gate-nya. Oke deh. Beli Total Film dan duduk manis menunggu. Tiba-tiba udah jam 7.35, saya melongok ke monitor belum juga disebut gate-nya! Hadoh! Jadi berangkat nggak neh?

Eh, ternyata jam 7.40, yak, hanya 20 menit sebelum terbang, baru ketahuan kita mesti menuju ke gate 37! Padahal gate ini jauh juga bo… yah jalan cepat deh! Masih untunglah nggak dicancel. Hehehe… Meskipun saya terhitung lancar melalui semua titik pemeriksaan (dan antriannya) tetep saya berdoa sepenuh hati, semoga prosedur ini benar-benar segera dihentikan dan kembali seperti dulu. Soalnya, sumpah deh, sama sekali nggak efisien dan melahkan!