volver
Ah, sekali lagi Almodovar berhasil memanjakan mata, telinga dan benak saya. Banyak review yang bilang Volver overrated. Atau hanya mengeksploitasi
kemolekan Penelope Cruz. Ternyata nggak juga tuh! Memang Cruz terlalu cantik untuk perannya sebagai perempuan yang hidupnya susah. Apalagi dia digambarkan jago nyanyi. Kan biasanya perempuan cantik yang jago nyanyi udah mengadu keberuntungan di TV, atau minimal nyanyi di cafe, bukan jadi janitor seperti tokoh Raimunda. Hehehe… Tapi aktingnya yang meyakinkan membuat kelebihan ini termaafkan. Masa perempuan cantik nggak boleh hidupnya susah?
Volver membawa saya jalan-jalan ke Madrid, menikmati gejolak hubungan antara tokohnya yang dilukiskan dengan penuh warna. Cara perempuan-perempuan
Madrid memberi salam dengan saling mengecup pipi dengan decakan yang berisik hingga 3-4 kali di pipi kanan dan kiri mau nggak mau bikin ketawa. Coba aja kalau ketemu buat arisan dimana ada puluhan perempuan, berisik banget kan acara saling cium pipinya!
Nyaris sebagus All About My Mother (masih favorit diantara karya Almodovar), Volver juga mengulik hubungan keluarga yang sentralnya pada tokoh Ibu. Kedua film ini (plus Bad Education dan Women on the Verge of a Nervous Breakdown) membuat saya curiga, jangan-jangan Almodovar dulunya pengin jadi psikolog tapi males sekolah dan intership kelamaan, lagian pengin ngetop juga, jadinya bikin film aja deh…